Biayai Rezim Kim Jong-un, Peretas Korea Utara Diduga Mencuri Bitcoin

Tak cukup dengan uji coba nuklir dan diduga mendalangi ransomware WannaCry yang sempat meneror warga dunia, Korea Utara kembali menjadi tertuduh dari sebuah perbuatan jahat. Kali ini Korea Utara diduga menjadi pihak yang bertanggung-jawab di balik pencurian bitcoin. Makin meroket nilai mata uang digital tersebut, makin banyak kasus pencurian yang terjadi. Nama Kim Jong-un pun seakan tidak mau ketinggalan.

Gara-gara serentetan sanksi PBB yang menghancurkan ekonomi Pyongyang, Korea Utara dikabarkan mengandalkan mata uang virtual untuk kembali bangkit. Para peretas asal Korea Utara dilaporkan menggondol uang digital bitcoin dari negara tetangganya, yakni Korea Selatan. Semua itu dilakukan untuk disetorkan ke rezim Kim Jong-un.

Laporan tersebut berasal dari firma keamanan siber, FireEye, yang membeberkan bahwa peretas Pyongyang telah mencuri uang virtual kripto dari Korea Selatan sejak Mei 2017. Menurut FireEye, ada pelakon yang disponsori oleh negara untuk mencuri bitcoin dan mata uang virtual lainnya. Hal ini dilakukan sebagai alat untuk menghindari sanksi serta mendapatkan mata uang keras supaya bisa mendanai rezim Kim Jong-un.

Satu bulan sebelumnya, ada empat “dompet” di bursa criptocurrency Yapizon Korea Selatan menjadi incaran, namun FireEye tidak dapat menemukan keterkaitannya dengan Korea Utara. Kehilangan yang diderita oleh Yapizon karena peretasan ini adalah 3.816 bitcoin atau sekitar USD 5,3 juta.

Selain itu, para peretas Korea Utara juga dikait-kaitkan dengan malware yang ditemukan di ATM Korea Selatan. Menurut Wall Street Journal, serangan itu bertujuan supaya rezim Kim Jong-un bisa memindahkan kriptografis dari “dompet” daring dan mencairkan uangnya ke mata uang dollar AS, Korea Selatan atau malah Tiongkok. Supaya makin sulit dilacak, para peretas juga dapat mengubah bitcoin menjadi kripto yang lebih ambigu.

Di sisi lain, pemerintah Korea Utara tidak mengonfirmasi tuduhan bahwa negara komunis tersebut telah sponsori peretas untuk melakukan kejahatan berupa pencurian mata uang digital. Korea Utara memang disebutkan memiliki ketertarikan kepada bitcoin. Akrobat ini dimaksudkan sebagai sarana untuk mencegah krisis keuangan yang makin hebat melanda negara yang dipimpin oleh Kim Jong-un tersebut. Apalagi bank-bank global sudah tak mau bermuamalah dengan rezim Kim Jong-un. Maka, uang digital tampak bersinar terang sebagai pintu keluar dari problema tersebut. Mau tak mau, fokus mendulang bitcoin adalah kunci.

Gedung Putih malah sudah menduga jika serangan WannaCry yang sempat meledak beberapa waktu lalu memanglah diluncurkan oleh Korea Utara. Sebab WannaCry menuntut tebusan berupa bitcoin kepada para korbannya. Yang mana bitcoin sendiri sedang diincar oleh Korea Utara untuk masalah finansial negaranya. Keterkaitan ini menjadi penguat dugaan tersebut.

Perusahaan keamanan McAfee merilis hasil riset terbaru yang mengungkap bahwa kelompok peretas Lazarus mulai menargetkan investor bitcoin untuk diretas. Nah, Lazarus sendiri adalah kelompok peretas yang ditengarai terkait dengan Korea Utara. Sebelumnya, Lazarus juga diduga kuat merupakan otak kejahatan di balik fenomena ransomware WannaCry yang sempat meresahkan warga dunia.

Sejak tren mata uang virtual meledak pada akhir 2017 yang lalu, jumlah kasus pencurian bitcoin terus meningkat. Para penjahat yang mengadu nasib dalam pencurian bitcoin sering kali berusaha mengantongi private key. Private key atau kunci personal adalah serangkaian kode yang bisa dipakai untuk membuka dompet bitcoin. Setelah membobol dompet digital tersebut, peretas dapat memindah-mindahkan bitcoin tersebut dari dompet ke dompet, termasuk dompet mereka sendiri.

Tags: , , , , , , , , , , ,

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 shares