Kang Abik: Sosok di Balik Fenomena Ayat-Ayat Cinta

Saat mendengar Ayat-Ayat Cinta, maka yang terlintas di pikiran selain Fahri dan Aisha tentu saja adalah Kang Abik. Penulis yang mengenyam pendidikannya di Kairo ini bisa dibilang sebagai penulis yang perfeksionis dalam menyusun kalimat per kalimat dalam novelnya. Ia bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan sebuah novel, menghabiskan waktu untuk riset mendalam dan membentuk karakter yang begitu komplek sehingga menciptakan sebuah bacaan yang begitu nyata.

Habiburrahman El Shirazy adalah nama lengkap dari Kang Abik. Beliau adalah dai, novelis, dan juga seorang penyair yang karya-karyanya bukan hanya sangat populer di Indonesia, melainkan juga sampai ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan juga Brunei. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, nama Kang Abik ini terdengar gaungnya saat Ayat-Ayat Cinta naik ke layar lebar, saat itu ia tak hanya dikenal sebagai penulis novel best seller saja melainkan juga masternya novel yang difilmkan. Setelah Ayat-Ayat Cinta mendulang sukses, sekarang hampir semua karyanya sudah difilmkan dan cukup sukses di pasaran. Hal ini membuat pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, tanggal 30 September 1976 ini semakin bersemangat untuk menciptakan karyanya yang lebih memuaskan penggemarnya. Lelaki yang menikah dengan Muyasaratun Sa’idah dan memiliki dua orang putera bernama Muhammad Ziaul Kautsar dan Muhammad Neil Author ini tak akan pernah berhenti menulis buah pikiran luar biasanya dalam berkarya.

Beberapa karyanya antara lain, Ayat-Ayat Cinta (film, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (sinetron, 2004), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007) yang dilanjutkan Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) serta Dalam Mihrab Cinta (2007). Lalu, masih ada Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan juga Bulan Madu di Yerussalem.

Habiburrahman el-Shirazy adalah seseorang yang menyeimbangkan pendidikan agama dan juga pendidikan formalnya, bahkan tak cukup menuntut ilmu di dalam negeri, beliau juga sampai terbang ke negeri yang jauh untuk menyelesaikan studinya. Pendidikan formalnya pernah ditimba di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen, sekaligus belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak dimana K.H. Abdul Bashir Hamzah adalah pengasuhnya. Kemudian pada tahun 1992 beliau pun merantau ke kota budaya Surakarta untuk melanjutkan belajarnya di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, dan berhasil lulus pada tahun 1995.

Tak cukup sampai disitu, beliau melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke jenjang yang lebih tinggi yakni Fakultas Ushuluddin, setelah itu mengambil Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan akhirnya selesai pada tahun 1999. Sudah selesaikah? Belum! Karena ingin memperkuat pendidikannya, beliau memutuskan melanjutkan S2 dan tahun 2001 pun lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo, universitas yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.

Sejak bersekolah, beliau sudah menampakkan bakatnya dalam dunia literasi dan sastra, bahkan sempat menjuarai berbagai macam kompetisi yang bergengsi, seperti menjadi pemenang pertama dalam lomba pidato bahasa Arab Jateng dan DIY oleh UMS Surakarta (1994) dan juara I lomba baca puisi Arab untuk tingkat Nasional diadakan oleh IMABA UGM Jogjakarta (1994). Saat kuliah di Kairo, beliau produktif dan menghasilkan beberapa naskah drama dan sekaligus menyutradarainya, beberapa di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), dan Darah Syuhada (2000). Pernah mendapatkan amanah untuk menjadi Ketua TIM Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu Menara Nafas Peradaban (diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo) dan juga salah satu founder FLP (Forum Lingkar Pena) yang tetap eksis sampai saat ini.

Tags: , , , ,

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 shares