Investasi ala Robert Kiyosaki: Rich Dad, Poor Dad

Robert Kiyosaki terkenal di era 2000an, berkat bukunya yang membandingkan pandangan-pandangan hidup dari kedua ayahnya yang sama-sama sukses di bidang mereka masing-masing, tetapi hasil finansialnya berbeda. Buku yang jadi best seller di bidang personal finance ini tetap ramai dibincangkan sampai sekarang. Walau banyak pro dan kontra yang muncul, tapi tetap saja buku itu menjadi pedoman bagi mereka yang ingin memiliki cara pandang baru mengenai dunia finansial. Tak ada salahnya mengambil hikmah dari tulisan dalam buku ini.

Menurut Kiyosaki, ia terlahir dari keluarga yang terpandang di Hawaii, sang ayah menjadi kepala dinas pendidikan di Hawaii saat ia kecil, berpendidikan tinggi dan cerdas sekali. Bahkan ayahnya sampai dapatkan Ph.D kemudian dilanjutkan ke Stanford University, University of Chicago dan Nothwestern University dengan beasiswa. Walaupun pendidikannya sangat tinggi dan cerdas, tetapi ayahnya miskin (poor dad), meninggalkan banyak hutang dan sama sekali tidak kaya.

Sementara itu ayahnya yang lain (rich dad) yang tak lain adalah ayah temannya sendiri, adalah kebalikan dari ayah kandungnya. Lelaki itu banyak mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan uang, dari mulai filosofinya sampai cara untuk terbebas dari kesulitan finansial. Walaupun tak lulus SMP, tetapi kekayaan yang berhasil diraih membuatnya jadi orang terkaya di Hawaii.

Kedua ayahnya itu adalah orang yang sama-sama berusaha keras di bidangnya sendiri, sang Poor Dad di jalur pendidikan dan hanya ingin hidup tenang sebagai pegawai negeri yang adem ayem, sementara sang Rich Dad kerja keras untuk membangun kerajaan bisnisnya. Keduanya memiliki cara pandang yang sangat berbeda tentang pengelolaan uang, uang itu sendiri dan tujuan finansialnya. Jika ayah miskinnya mengatakan bahwa dengan mencintai uang menjadi sumber segala setan yang jahat, maka ayah kayanya malah mengatakan bahwa kehabisan uang justru jadi sumber dari segala setan. Di bawah ini adalah beberapa rangkuman perbedaan pandangan dari si ayah miskin dan juga si ayah kaya yang berhubungan dengan kebebasan finansial dan uang:

Poor Dad mengatakan bahwa rumah adalah aset, sementara Rich Dad mengatakan bahwa rumah adalah liabilitas, yakni membutuhkan biaya dari kantong kita. Tak heran jika semakin hari, pemilik rumah-rumah besar yang dijadikan aset mengalami kerugian karena rumah yang mulai rusak dan perlu banyak renovasi jika ingin harga jualnya lebih tinggi supaya tak rugi-rugi amat.

Poor Dad pesimis dengan mengatakan bahwa dia tak mampu melakukannya, sementara Rich Dad malah bertanya-tanya cara apa yang harus dilakukan supaya dia jadi mampu? Ini adalah pertanyaan yang tepat, maka pikiran kita akan terbuka dan berusaha keras untuk temukan jawaban.

Poor Dad menjadikan anak yang butuh banyak biaya pendidikan dan tetek bengek lainnya sebagai alasan tidak bisa jadi kaya (karena memenuhi kebutuhan anak jadi tak bisa menabung), sementara Rich Dad mengatakan bahwa ia harus kaya karena memiliki anak yang harus ia penuhi semua kebutuhannya.

Poor Dad mengatakan bahwa ia tak tertarik dengan uang, tapi Rich Dad mengatakan bahwa uang adalah kekuatan terbesar. Jangan ambil risiko dengan uang, begitu kata Poor Dad, sementara menurut Rich Dad malah berujar kita harus pandai dalam mengelola risiko. Poor Dad ingin dibayar setelah semua kerjaannya selesai dan akhirnya membelanjakan semua uang untuk keperluannya yang sudah menumpuk dan tak ada investasi. Sementara Rich Dad ingin dibayar di muka supaya bisa memasukkan uang-uang itu untuk berinvestasi.

Kecerdasan akademik dan pencapaian yang tinggi di sana adalah hal yang utama bagi Poor Dad, tetapi bagi Rich Dad kecerdasan finansial harus sebanding dengan kecerdasan akademik. Poor Dad menasihati untuk belajar pada kata-kata pendidikan, tetapi Rich Dad mengajarkan untuk mempelajari kata-kata keuangan. Jika Poor Dad mengatakan bahwa ia bekerja untuk uang, maka Rich Dad kebalikannya. Ia membuat uang yang bekerja untuknya.

Menghasilkan uang akan menyelesaikan masalah keuangan yang dimiliki adalah pendapat bagi Poor Dad, tetapi bagi Rich Dad justru pendidikan finansial yang tepat adalah solusinya. Bukan jumlah uang yang jadi poin utama, tapi bagaimana cara kita memanfaatkan uang yang kita miliki supaya bisa bertahan lama dan mencukupi semua kebutuhan kita.

Tags: , , ,

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 shares