Mark Zuckerberg: Kaya Raya tapi Tak Suka Kemewahan

Nama panjangnya Mark Elliot Zuckerberg. Seorang Yahudi kelahiran White Plains, New York, 14 Mei 1984. Dia merupakan seorang pemrogram komputer sekaligus pengusaha internet yang melejit karena telah menciptakan situs jejaring sosial Facebook. Bersama teman sekelasnya di Universitas Harvard, Dustin Moskovitz, Eduardo Saverin, dan Chris Hughes, Mark mendirikan Facebook sebagai perusahaan swasta pada tahun 2004. Sekaligus menjadi ancaman eksistensi Friendster.

Cerita lebih lengkap tentang upaya Mark Zuckerberg membesarkan Facebook diangkat menjadi sebuah film berjudul The Social Network. Film tersebut punya tagline “You don’t get to million friends without making a few enemies”. Sungguh provokatif, namun sesuai dengan jalan cerita yang digulirkan dimana Mark sempat berseteru dengan kawannya sendiri demi rebutan Facebook. Imbas dari pertikaian tersebut, bim salabim abra kadabra, Facebook mendapatkan jutaan pengguna aktif.

Ternyata musuh yang diciptakan oleh Mark bukan hanya dari lingkaran temannya saja. Namun, Mark juga tanpa sengaja menjadikan mantan pacarnya sebagai musuh. Tampak di ending film, Mark menambahkan mantan pacarnya sebagai teman di Facebook, namun tak kunjung diterima. Sampai Mark refresh berkali-kali, permintaan pertemanannya masih diabaikan oleh sang mantan. Pedih juga rasanya menjadi Mark kala itu. Mengingat, Mark sudah punya segalanya di usia belia, namun dia tidak bisa masuk ke daftar teman sang mantan di media sosial kreasinya sendiri.

Entah bagaimana kelanjutan hubungannya dengan sang mantan yang diceritakan di film The Social Network, tahu-tahu Mark Zuckerberg dikabarkan menikah dengan seorang gadis Asia pada 19 Mei 2012. Tepat lima hari setelah Mark berulang tahun ke-28. Adalah Priscilla Chan yang beruntung mendapatkan sang milyuner muda sebagai suami. Kendati Mark bergelimang harta, pesta untuk mengesahkan Priscilla sebagai Nyonya Zuckerberg dihelat secara sederhana. Tamu undangan pun hanya 100 orang. Tidak pakai mengundang orkes dangdut juga, sepertinya.

Ternyata kesederhanaan Mark bukan hanya pada caranya merayakan hari bahagia bersama sang istri. Pada kesehariannya pun Mark tampil biasa-biasa saja. Padahal kalau mau, Mark bisa pakai koas Supreme kemana-mana, tak lupa topi Gucci, kacamata merek Oakley dan sepatu Yeezy. Tapi Mark tidak repot-repot menunjukkan dirinya sebagai orang sugih. Cukup pakai kaos yang nyaman dikenakan. Malah terkesan bajunya itu-itu saja. Seperti tokoh kartun di serial Doraemon karya Fujiko F. Fujio yang tidak pernah ganti baju.

Selain sandang, masalah papan pun Mark tidak suka kemewahan. Rumahnya sederhana saja, dengan lima kamar, ruang kerja, kolam renang, dan halaman imut. Tidak ada theme park pribadi di halaman belakang seperti di rumah Richie Rich. Harga rumah Mark tergolong murah dan dekat dengan tempat kerjanya. Mark benar-benar memperhitungkan waktunya agar tidak terbuang sia-sia. Jadi, dia tidak memusingkan hal yang kurang prinsipil. Baginya, yang terpenting adalah kerja, kerja, kerja.

Untuk kendaraan, Mark memilih mobil yang murah-murah saja. Masih di bawah satu miliar, asal bisa membawanya ke kantor. Ya mungkin memang Mark tidak hobi koleksi mobil mewah seperti pengacara dan presenter acara musik Indonesia.

Begitulah gaya hidup yang dipilih Mark Zuckerberg. Dia tidak perlu membuktikan kekayaannya demi mendapat pengakuan dari orang lain. Dia cukup bekerja dan beramal. Saking seringnya menyumbang, Mark sampai masuk ke daftar 10 orang kaya yang paling dermawan di Amerika Serikat versi Chronicle of Philantropy. Konon, sikap welas asihnya tersebut dipengaruhi oleh sang istri, Priscilla yang memang tidak tegaan melihat orang lain menderita.

Tags: , , , ,

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 shares