Pesan Bondan Winarno

“Pokoe maknyus!”

Siapa yang tak kenal dengan ungkapan tersebut? Ungkapan yang menggambarkan kondisi enak itu dipopulerkan oleh seorang pakar kuliner kenamaan bernama lengkap Bondan Haryo Winarno. Beliau adalah seorang penulis dan wartawan Indonesia yang multitalenta. Namanya dikenal masyarakat Indonesia karena ketekunannya mencicipi makanan dari berbagai daerah dalam acara kuliner di Trans TV, yakni Wisata Kuliner.

Meski dikenal sebagai pembawa acara kuliner, ternyata Pak Bondan piawai menulis cerpen. Salah satu cerpen terbaiknya berjudul Gazzele menjadi pemenang pertama lomba penulisan cerpen majalah Femina pada tahun 1984. Cerpen tersebut terinspirasi dari sebagian pengalamannya tatkala bertugas sebagai wartawan ke berbagai negeri, antara lain ke Kenya, Afrika.

Yang perlu dicontoh dari Pak Bondan adalah kebiasaan menulisnya yang tak kenal tempat. Beliau bisa menulis di mana saja, di pesawat, di mobil, atau bahkan di toilet. Hasilnya, tulisan-tulisannya dimuat berbagai penerbitan, sebutlah Kompas, Sinar Harapan, dan Tempo. Beliau juga menulis beberapa buku, di antaranya Bre X: Sebungkah Emas Di Kaki Pelangi dan Tampomas II: Neraka di Laut Jawa.

Namun, tetap saja, kita mengenal Pak Bondan sebagai sang pencerah di dunia kuliner. Beliau mampu membuat kita penasaran dengan rasa suatu makanan hanya dengan deskripsi citarasa yang diungkapkannya dengan semangat. Komentarnya sangat berarti, sampai-sampai bikin orang-orang rela mengunjungi tempat-tempat yang pernah ditapakinya saat wisata kuliner. Ungkapan mak nyus yang keluar dari mulutnya menginspirasi manusia lain untuk bergerak demi mencicipi makanan yang sama.

Sungguh beruntung para pemilik rumah makan yang pernah disinggahi oleh Bondan Winarno. Mereka bisa dengan bangga memajang poster berisi foto Bondan Winarno dilengkapi caption “Pernah didatangi Bondan Winarno dan tim Wisata Kuliner”. Trik promosi yang dengan mudah bisa mendatangkan banyak pengunjung.

Sebagai junjungan di dunia kuliner, Bondan Winarno adalah tempat bertanya tentang cara menyikapi makanan dan cara terbaik menyantapnya. Untuk polemik bubur diaduk vs bubur tidak diaduk, Pak Bondan mengambil sikapnya dengan menjawab: ya, diaduk lah. Sebuah jawaban yang tegas dan berprinsip. Tapi tetap kembali ke selera masing-masing. Yang Pak Bondan lakukan bukanlah menambah bahan perdebatan, melainkan konsisten dengan hal yang biasa dia lakukan selama ini: menyampaikan rasa dengan jujur. Berarti, menurutnya, bubur akan terasa lebih lezat dinikmati ketika diaduk. Untuk “Tim Bubur Tidak Diaduk”, mungkin bisa menjajal sekali-sekali mengaduk buburnya untuk membuktikan teori Pak Bondan tersebut.

Satu bulan berselang setelah memberi jawaban untuk polemik tentang bubur dan menyudahi infinity war di dunia kuliner, Pak Bondan dikabarkan tutup usia pada hari Rabu, 29 November 2017. Sebelumnya, pada pertengahan November 2017, pria yang lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 29 April 1950 ini sempat dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita akibat kelainan jantung. Sebelum meninggal, beliau berwasiat kepada keluarganya agar jenazahnya dikremasi.

Namun, sebenarnya, ada juga pesan dari Bondan Winarno untuk kita semua. Selama ini mungkin beliau tidak menyampaikannya secara gamblang, tapi dari caranya menikmati hidangan khas berselera, kita bisa tahu. Setiap kata yang keluar dari mulutnya setelah mencicipi suatu makanan, adalah rasa syukur. Kita bisa mengikuti jalan kuliner Pak Bondan, yakni bersyukur dengan setiap makanan yang kita terima. Menghargai setiap rasa yang mampu kita kecap dengan indera. Berterima kasih kepada mereka, juru masak, koki, chef, yang telah repot-repot memasaknya untuk kita santap. Sebab di setiap rasa, pasti ada cinta.

Tags: , , , , ,

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 shares