Rafael Trujillo Sang Diktator Narsis

Rafael Leonidas Trujillo Molina terlahir di San Cristóbal, Republik Dominika dari keluarga menengah ke bawah. Dilahirkan dari pasangan José “Pepito” Trujillo Valdez, (merupakan seorang sersan Spanyol) dan ibunya Altagracia Julia Molina Chevalier (dikenal sebagai Mamá Julia). Ia adalah anak ketiga dari sebelas bersaudara, tetapi ia juga memiliki saudara angkat yakni Luis Rafael “Nene” Trujillo.

Trujilo melewati masa kecil yang biasa-biasa saja. Saat usianya enam tahun di 1897 bersekolah di Juan Hilario Meriño. Pindah ke sekolah Broughton setahun kemudian, di sana ia jadi murid dari Eugenio María de Hostos. Di usianya yang keenam belas tahun, ia dapatkan pekerjaan pertama sebagai operator telegraf selama kurang lebih tiga tahun. Setelah ia kehilangan pekerjaan, hidupnya berubah dan mulai bertingkah, dari melakukan pemalsuan, mencuri ternak sampai merampok pos. Beberapa bulan di penjara malah membuatnya jadi makin kuat dan membentuk sebuah kelompok yang berisi para perampok hebat, dengan anggota kurang lebih 42 orang.

Melalui jalan yang berbelit, lahirlah sosok baru penguasa militer yang dijuluki “Tinju Besi” yang memerintah Republik Dominika. Rafael Trujillo dikenal juga sebagai “El Jefe” ini mendapatkan kekuasaannya tahun 1930 dengan cara yang kontroversial, saat ia memberikan suara yang lebih banyak daripada jumlah pemilih resmi. Saat menjabat pun berbagai kebijakannya mengundang kontroversi, narsisnya membuat Trujillo sampai menganti nama ibukota negara dengan namanya sendiri, berbagai jalan utama, bangunan-bangunan besar, sampai dengan nama-nama gunung pun mengandung namanya sendiri. Tak cukup sampai di situ, Trujilo pun mewajibkan setiap plat nomor di negara tersebut mencantumkan “Viva Trujillo” dan gereja pun tak luput dari kesombongannya, setiap gereja wajib menampilkan tulisan “Dios en cielo, Trujillo en tierra” (Tuhan di Surga, Trujillo di Bumi) sebagai salah satu bentuk kepercayaan dirinya yang berlebihan, bahwa ia adalah tuhan atau tangan kanan Tuhan di bumi.

Sesumbarnya tak sesuai dengan kelakuannya, Trujillo bahkan sampai menunjuk anak laki-lakinya yang masih berusia 3 tahun—Ramfis sebagai seorang kolonel, sebab ia memiliki komando militer pribadi dan ia menyadarinya sebagai sebuah mahakarya yang strategis untuk menguntungkan kekuasaannya. Trujilo juga pernah menyelenggarakan acara dengan biaya yang wah (kurang lebih senilai $ 30 juta), bertajuk Pekan Damai dan Persaudaraan Dunia Bebas untuk menahbiskan sang puteri sebagai ratu. Acara ini berlangsung sepanjang tahun dan sepertiga dari anggaran nasional dihabiskan untuk memuaskan sang presiden. Dalam kesemparan yang sama, gelaran penulis dan filsuf yang terhormat disematkan pada sang istri—yang hampir buta huruf.

Kenarsisannya memang luar biasa, ia haus kekuasaan dan pujian, ia juga memasang billboard di ibukota dengan tulisan “Dios y Trujillo.” Selama bertahun-tahun billboard itu tetap bertahan dan semakin besar saja ukurannya, ia juga kemudian mempromosikan sang anak ke jenderal.

Rezim Trujillo bertanggung jawab atas terjadinya kematian massal pada lebih dari 50.000 orang, semua korban sekitar 20-30ribuan orang dalam pembantaian Parsley (Parsley Massacre) yang terkenal. Rezim ini terkenal sebagai rezim paling kejam dan berdarah dalam sejarah Dominika—bahkan di AS sekalipun.

Lantas apa yang terjadi kepadanya saat ini? Ternyata pada 1961, sekelompok orang yang sudah terlalu muak padanya melakukan pemberontakan. Kurang lebih sekitar 11 orang menyerang El Jefe, kemudian dari serangan yang menewaskan sang diktator tersebut, para pemberontak tersebut berhasil menendang keluarga sang diktator keluar negeri. Konon CIA pun terlibat dalam kasus ini, akan tetapi tak ada yang berniat membahasnya lebih jauh, sebab seluruh lapisan masyarakat dalam Republik Dominika pun memang sudah muak betul dengan Trujilo dan malah bersyukur dengan kejadian tersebut.

Tags: , , ,

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 shares