Trik Anti-Maling Bitcoin

Generasi milenial sekarang mulai menjalankan cash less dalam aktivitas harian mereka. Hal itu juga termasuk salah satu faktor yang membuat mata uang virtual—Bitcoin, menjadi lebih terkenal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika kita amati baik-baik, memang pertumbuhan mata uang virtual yang satu ini semakin berkembang dari hari ke hari. Bitcoin jadi salah satu jenis mata uang yang digandrungi masyarakat dan dicari-cari. Akan tetapi di balik kemajuannya, rupanya harga Bitcoin yang gila-gilaan itu telah dipandang menarik dan sangat menggiurkan di mata para penjahat siber atau dikenal juga sebagai hacker. Tak hanya memiliki potensi yang bikin kaya mendadak, namun juga ada bahaya besar yang bisa menghancurkan di belakang Bitcoin itu sendiri. Kehilangan Bitcoin yang sudah susah payah kita kumpulkan, itulah yang paling utama.

Ada banyak kasus yang mengabarkan bahwa hacker mampu membobol bank uang virtual dan menghabiskan isinya tanpa banyak bicara. Contohnya saja pada bulan September tahun 2012 silam, sebuah lembaga pertukaran dan juga penjualan mata uang virtual yaitu Bitfloor, dalam waktu yang singkat berhasil diserang oleh para hacker. Bahkan pada saat itu para pembobol tersebut telah berhasil menggasak Bitcoin yang mencapai nilai US$250 ribu atau kurang lebih sekitar Rp3,4 miliar. Hal itu langsung membuat Bitfloor bangkrut dan mau tak mau harus gulung tikar di tahun yang sama.

Kemudian di akhir Januari 2018 silam, kisah kelam di dunia Bitcoin terjadi lagi saat para hacker berhasil membobol mata uang virtual ini untuk kesekian kalinya. Sebuah lembaga pertukaran uang virtual yang berlokasi di Jepang, yaitu Coincheck telah merugi sebanyak 53 miliar yen atau jika di-Rupiahkan kurang lebih sekitar Rp6,5 triliun. Hal itu juga membuat lembaga pertukaran uang itu menderita kerugian yang tak main-main.

Beberapa ahli keamanan digital ikut bersuara mengenai kasus-kasus pencurian mata uang digital ini, salah satunya laboratorium perusahaan keamanan Kaspersky yang menyatakan bahwa serangan malware memang sangat awas mengintai transaksi uang Bitcoin. Hebatnya lagi, malware yang memang sengaja disebarkan oleh para hacker itu memiliki kemampuan untuk meretas Bitcoin wallet dan kemudian langsung mencuri isinya dengan menggunakan botnet serta dengan menyebarkan virus trojan. Bahan botnet juga bisa memasuki komputer yang digunakan oleh seorang pengguna Bitcoin, dan kemudian mengendalikannya secara jarak jauh dan berlaku seakan-akan pemilik asli komputer tersebut dengan melakukan transaksi Bitcoin.

Saran pertama yang direkomendasikan oleh Kasperky Lab adalah, para pengguna Bitcoin jangan sampai menyimpan semua mata uang virtual yang mereka miliki di bank online, jangan juga menggunakan layanan bursa mata uang virtual. Memang tempat-tempat tersebut memiliki reputasi yang baik, juga cukup aman untuk beberapa kondisi tertentu. Hanya saja, kemungkinan untuk diretas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab itu masih sangatlah besar. Masih berisiko.

Banyak pemilik Bitcoin yang tidak tahu, jika kedua tempat yang dipercaya masyarakat itu ternyata tidak menjamin bahwa mereka bisa mengembalikan uang pelanggan yang telah berhasil dicuri oleh para hacker. Kaspersky lantas menyarankan pemilik Bitcoin untuk menggunakan Bitcoin wallet saja secara luar jaringan atau offline. Kemudian saran berikutnya adalah dengan menggunakan layanan offline, ada banyak layanan offline Bitcoin wallet yang digunakan oleh masyarakat, misalnya saja seperti Electrum atau juga Armory. Keduanya memungkinkan kita untuk menyimpan mata uang virtual yang kita miliki ke dalam brankas khusus yang terenkripsi dengan sangat kuat dalam hard drive milik sendiri. Kemudian saran yang ketiga adalah dengan menggunakan sebaris password yang cukup kuat untuk memberikan perlindungan aman yang ganda.

Lantas, Kaspersky Lab juga menuturkan bahwa sandi pada Bitcoin wallet itu lebih disarankan untuk dibuat dengan menggunakan software open-source yang mampu menghasilkan kata kunci sendiri. Kemudian saran yang terakhir adalah denga memisahkan tempat menyimpan offline wallet dengan komputer yang biasa kita gunakan untuk mengakses internet. Jadi pengguna bisa memilih untuk menyimpannya di dalam hard drive atau juga pada komputer yang tidak memiliki hubungan internet manapun.

Tags: , , , , , , , , , , ,

Related Posts

by
Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 shares